Beranda > Puasa, Religy > Janganlah engkau begitu

Janganlah engkau begitu

Mei 27, 2011

Segala sesuatu yang berlebihan pasti tidak akan baik, begitu juga dengan amalan ibadah yang dilakukan tanpa sesuai dengan ajaran Islam.

Mari kita simak penuturan, sahabat blogger kota santri.

Jangan engkau lakukan hal itu

Di antara para sahabat Rasulullah Saw yang acap hadir dalam pelbagai pertemuan yang beliau hadiri adalah seorang anak muda bernama Abdullah bin Amr bin Al-Ash.

Sahabat yang satu ini putra sulung pasangan suami istri Amr bin Ash, penakluk Mesir dan Raithah binti Munabbih Al Sahmiyah. Bernama lengkap Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Al-Ash bin Wa’il Al-Sahmi, dia lahir di Makkah tahun ketujuh sebelum Hijriah, 616 Masehi. Dia memeluk Islam sebelum ayahnya yang baru memeluk Islam menjelang penaklukan Makkah bersama Khalid bin Walid.
Setelah memeluk Islam – dan kerena mampu membaca dan menulis- sahabat yang terkenal selalu memegang amanah dan memiliki daya hafal yang sangat kuat ini diberi izin Nabi Muhammad Saw untuk mencatat hadits.

Meski putra seorang pembesar Quraisy yang kelak menjadi penguasa Mesir, Abdullah bin Amr terkenal sebagai orang yang sederhana dan tekun beribadah serta mendaras Al-Quran.

Suatu ketika, Abdullah bin Amr bertemu dengan Rasulullah Saw. Melihat anak muda yang shaleh itu, beliau mendekatinya. Beliau kala itu telah mendengar kabar dari ayah anak muda itu yang menerima keluhan dari menantu perempuannya bahwa sang anak bersunpah akan berpuasa sepanjang hari dan melaksanakan shalat setiap malam sepanjang hayatnya.

Beliau kemudian berkata kepadanya, “ Wahai Abdullah! Aku dengar, engkau bersumpah akan berpuasa setiap hari sepanjang hari dan akan bershalat malam setiap malam sepanjang malam sepanjang hidupmu.”
“ Benar, wahai Rasul! Aku memang bersumpah demikian, “ jawab anak muda yang ketika perang Shiffin pecah antara Ali bin Abi Thalib dan kelompok Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang didukung oleh ayahnya, Amr bin Ash malah enggan bergabung dengan pasukan yang dipimpin oleh ayahnya.

“ Wahai Abdullah! Aku berpesan jangan engkau lakukan hal itu! Berpuasalah selama beberapa hari. Demikian pula, shalatlah dan tidurlah pada malam hari. Tahukah engkau kenapa? Tubuhmu punya hak atas dirimu. Matamu juga punya hak atas dirimu. Istrimu pun punya hak atas dirimu. Tamumu pun demikian. Cukuplah bagimu berpuasa selama tiga hari. Kini, pahala suatu amal yang bai dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Dengan demikian, puasa tiga hari (setiap sebulan) menjadi seperti berpuasa sepanjang tahun,” pesan beliau lebih lanjut.
“ Wahai  Rasul, aku ini masih muda. Aku kuat shalat dan puasa seperti yang kuinginkan, “ sanggah anak itu dengan keras kepala.
Jika demikian, berpuasalah sehari dan berbukalah selama dua hari!” pesan beliau dengan nada agak keras.
“ Wahai Rasul, aku mampu berpuasa lebih dari puasa demikian itu!” sanggah anak muda itu lagi.
“ Jika demikian, berpuasalah sehari dan berbuka sehari. Itu adala puasa Nabi Dawud a.s. Itulah puasa sunnah yang terbaik! Juga, khatamkanlah bacaan Al Qur’an sekali dalam tujuh malam!” pesan beliau dengan tegas.
“ Tapi wahai Rasul, aku mampu berpuasa yang lebih baik ketimbang puasa yang demikian itu, “ jawab Abdullah bin Amr, nampak ingin menunjukkan kekuatannya dan bersikeras dengan pendapat dan keinginannya.


“ Abdullah! Tiada yang lebih baik ketimbang puasa Nabi Dawud a.s, “ tegas Rasulullah Saw.

– – – –

semoga manfaat,

NB : jika sobat seorang blogger (memiliki blog), jangan lupa Mari Berkomunitas di Faceblog

Iklan
Kategori:Puasa, Religy
%d blogger menyukai ini: